Postingan

Perempuan yang Mengarsipkan Hujan

  Di antara rintiknya, ada kenangan yang tak sempat diucapkan. Hujan selalu datang tanpa permisi di rumah kecil itu, namun anehnya, tak pernah terasa asing. Sore itu, langit mulai menggelap lebih cepat dari biasanya. Semilir angin membawa bau tanah yang lembap, menyusup melewati celah-celah jendela kayu yang sudah sedikit lapuk. Di dalam rumah, aku duduk di lantai sambil merapikan buku-bukuku, sementara Arutala berlari kecil mengelilingi ruangan, tertawa tanpa alasan yang jelas. ’’Ibu… hujan!” seru Arutala dengan mata berbinar, menunjuk ke arah luar. Di dapur sempit, Ibu menoleh sambil mengaduk air dalam panci. Perempuan itu tampak lelah, tetapi senyumnya tidak pernah benar-benar hilang. Hari itu, Ibu baru saja pulang dari pekerjaan serabutan, membersihkan rumah orang, lalu membantu berjualan di pasar. Namun, setiap kali hujan datang, ada sesuatu dalam dirinya yang selalu membuatnya menjadi lebih tenang. ’’Sudah mulai, ya…” kata Ibu pelan. Tak lama, suara rintik pertama j...

Sayap Oranye yang Terlupakan

       Di sebuah kota kecil yang hampir saja terlupa di peta, hiduplah seekor kucing kecil berbulu oranye yang lahir dalam keadaan lumpuh, dirinya di lahirkan dengan kondisi berbeda dengan saudara kucing lainnya.   Mungkin ini memang takdir yang terbaik baginya.   Hingga suatu saat dirinya memutuskan untuk pergi dari keluarganya dan menjalani hidup seorang diri, mungkin kali ini dirinya hanya berharap jika suatu saat ada seorang manusia yang mau merawatnya. Tubuhnya kecil dan lemah, kaki belakangnya tidak mampu menopang tubuhnya. Walaupun dirinya harus berusaha untuk berjalan meski kakinya mengalami kelumpuhan, ia tetap menelusuri jalanan dengan sekuat tenaga yang ada dalam dirinya dan yakin pasti ada hal yang indah di depan sana. Kucing berbulu oranye tersebut melihat kearah sekitar, melihat teman sebayanya yang asik bermain dengan kucing lainnya, dirinya hanya menatap dari kejauhan berharap aka nada keajaiban yang datang. Suatu hari saat kucing itu se...

Lelaki yang Menghidupkan Senja

       Di sudut kota yang kerap disapu angin, tinggal seorang penjual bunga kering. Namanya tak pernah tertulis di baliho, tak pernah disebut dalam iklan. Namun setiap pukul lima sore, saat langit menggigil dalam lembayung jingga, lelaki itu muncul dengan sekeranjang mawar tanpa harum, tapi sarat kisah. Ia bukan penyair, tapi setiap langkahnya menaburkan diksi. Setiap tatapannya mengguratkan makna yang tak bisa dilafalkan. Orang-orang menyebutnya "penyulam senja", karena entah mengapa, setiap kali ia lewat, suasana berubah melankolis. “Bunga ini tak layu,” katanya suatu kali. “Karena sudah selesai patah hati.” Aku membelinya satu sebatang bunga yang sudah mengering, diikat dengan benang wol merah tua. Tak ada wangi, tak ada duri, tapi mengandung jeda. Setelah hari itu, aku mulai mencatat kata-kata lelaki itu. Ia tak pernah berbicara panjang, hanya satu dua kalimat, tapi terasa seperti kutipan yang lahir dari dada langit. “Apa gunanya harum jika tak abadi?” ...

Sebatas Lengkara

       Kau seperti enigma yang fatamorgana, namun aku selalu yakin bahwa kita akan amerta hingga aku terlupa bahwa kita hanya sebuah kisah yang lengkara. ’’Bisa tidak ya aku dapat menemaninya setiap waktu?’’   ucapku, memandangi tubuh laki-laki tersebut. ’’Hei, ada apa?’’ ucapnya menepuk pundakku. ’’Tidak ada’’ jawabku, sembari menoleh kearahnya. ’’Ayo pulang’’ sambungnya kembali, sembari tersenyum kearahku. ’’Bagaimana jika suatu saat kita akan berpisah, sungguh aku tidak menginginkan hal itu terjadi’’ ucapku dalam hati, seperti terdapat sebuah kecemasan tersendiri mengenai hal ini. ’’Ada apa? Kok kamu merasa khawatir? Coba cerita’’ ujarnya, menatapku dari kaca spion motor menimbulkan senyuman khas miliknya. ’’Tidak ada kok, semua baik-baik saja’’ ucapku kembali meyakinkan laki-laki tersebut. ’’Kalau ada masalah bilang ya, jangan dipendam sendiri’’ jawabnya dengan sangat ramah.            ...

Rasa yang Tertinggal di Ujung Senja

       Langit sore itu jingga pucat, seperti warna yang tertinggal di matanya setelah terlalu lama menangis. Lira berdiri di depan rumah lamanya, sebuah bangunan kayu yang berderit pelan saat angin menyelinap di sela-sela celahnya. Ia sudah dua belas tahun tak menginjak tanah ini, tak melihat pohon jambu di sudut halaman yang dulu sering ia panjat diam-diam, tak mencium aroma tanah basah yang membangkitkan ingatan-ingatan yang lama ia kubur. Ia tak datang karena rindu. Ia datang karena surat. Sebuah amplop putih kusam dengan cap pos dari kampung mengabarkan kematian ibunya. Rumah itu hening. Hanya suara langkah kakinya yang menggema pelan. Debu menempel di setiap sudut ruangan. Di meja ruang tamu, ia menemukan sebuah buku tua buku harian milik ibunya. Ia membukanya dengan ragu. Tulisan tangan yang ia kenali perlahan membuka luka lama. “Untuk Lira, yang selalu Ibu rindukan dalam doa...” Halaman-halaman itu membawa Lira mundur. Ke usia tujuh belas. Ke malam k...

Suara Hati Renjana

       Bisakah aku berharap pada rindu? Yah rindu kepada seseorang yang tak bisa untuk aku temui. Waktu itu adalah hari terakhir aku melihatmu, di persimpangan jalan itu   aku lambaikan tanganku kearahmu. Menatap sejenak kedua bola matamu yang begitu indah. ’’Sampai jumpa, aku berharap kita akan bertemu kembali’’ ucapku dalam hati, menatap Langkah kakimu yang menjauh dariku. ’’Hai, sudah jangan bersedih lagi, aku yakin suatu saat nanti dia akan kembali’’ ujar sesosok wanita di belakangku. ’’Bagaimana aku tidak bersedih, aku khawatir   jika ini adalah sebuah pertemuan terakhir, aku takut kamu tidak akan kembali kepadaku’’ ucapku, karena aku memiliki firasat buruk terhadapnya.               Sejak hari itu aku terus saja mengkhawatirkanmu setiap waktu, aku tak bosan untuk mendoakanmu, ku tatap foto itu sebagai oba tatas kerinduan ini, berharap agar kau cepat kembali pulang. ’’Apakah dia...

Atma yang Tulus

            Aku tak tau apa arti sebuah ketulusan yang sebenarnya, namun mungkin bagi beliau arti sebuah ketulusan adalah sebuah cinta dan kasih sayang yang tak pernah berhenti beliau berikan kepada kami, yang selalu memberi tanpa mengharap lebih, yang selalu memberi apapun dengan segala ketulusan hati, walau kami sering mengecewakan dirinya. ’’ Nak, kamu belajar yang sungguh-sungguh yah, soal biaya biar ayah yang menanggungnya’’ ucap beliau yang hendak berangkat kerja. ’’Baiklah ayah, aku akan belajar dengan sungguh-sungguh’’ jawabku mencium punggung tangan lelaki hebat tersebut.             Seorang laki-laki yang berjuang keras demi menghidupi dan membahagiakan keluarga kecilnya, dirinya sama sekali tidak pernah mengeluh dalam hal apapun bahkan disaat beliau terpuruk rapuh, beliau sama sekali tidak memperlihatkan kepada kami. ’’Assalamualaikum’’ ucap laki-laki hebat itu. ’’Waalaikumsalam aya...