Rasa yang Tertinggal di Ujung Senja

     Langit sore itu jingga pucat, seperti warna yang tertinggal di matanya setelah terlalu lama menangis. Lira berdiri di depan rumah lamanya, sebuah bangunan kayu yang berderit pelan saat angin menyelinap di sela-sela celahnya. Ia sudah dua belas tahun tak menginjak tanah ini, tak melihat pohon jambu di sudut halaman yang dulu sering ia panjat diam-diam, tak mencium aroma tanah basah yang membangkitkan ingatan-ingatan yang lama ia kubur.

Ia tak datang karena rindu. Ia datang karena surat. Sebuah amplop putih kusam dengan cap pos dari kampung mengabarkan kematian ibunya.

Rumah itu hening. Hanya suara langkah kakinya yang menggema pelan. Debu menempel di setiap sudut ruangan. Di meja ruang tamu, ia menemukan sebuah buku tua

buku harian milik ibunya. Ia membukanya dengan ragu. Tulisan tangan yang ia kenali perlahan membuka luka lama.

“Untuk Lira, yang selalu Ibu rindukan dalam doa...”

Halaman-halaman itu membawa Lira mundur. Ke usia tujuh belas. Ke malam ketika ayahnya memaksanya menikah dengan lelaki yang bahkan tidak ia kenal, hanya karena tumpukan utang yang tak sanggup ayahnya bayar. Ia menolak, tapi yang ia dapat hanyalah kemarahan. Ia dikurung. Dipukul. Ditampar. Dan saat malam menenggelamkan suara, Lira kabur. Ia pergi membawa luka, membiarkan segalanya terbakar di belakangnya.

Selama ini ia hidup di kota. Bertahan. Menjadi kuat karena terpaksa. Ia pikir ibunya membiarkannya. Ia pikir ibunya diam. Tapi kini, di antara tulisan-tulisan itu, ia menemukan suara ibunya yang tak pernah sampai padanya.

Hari mulai berganti malam ketika Lira berjalan ke kamar ibunya. Aroma kayu tua menyeruak dari lemari tempat ibunya menyimpan kain dan buku. Di laci paling bawah, tersembunyi rapi di bawah tumpukan sajadah, ia menemukan sepucuk surat yang belum terkirim. Ditujukan padanya. Tertanggal dua tahun lalu.

“Maafkan Ibu. Aku tak pernah bisa menyelamatkanmu. Tapi aku selalu mengawasimu dari jauh. Uang kuliahmu, pekerjaan pertamamu, semua Ibu tahu. Bukan karena Ibu menguntit, tapi karena Ibu ingin merasa masih jadi Ibu.”

Surat itu menamparnya lebih keras dari tamparan ayahnya dulu. Air matanya mengalir begitu saja, seolah semua dinding yang selama ini ia bangun tiba-tiba runtuh. Seluruh tubuhnya gemetar. Ia menangis bukan karena marah. Tapi karena sesal yang tak bisa ditukar. Karena kehilangan yang tak lagi bisa dijangkau.

Di luar, suara jangkrik menggantikan suara burung. Lira duduk di samping jendela, memandangi halaman yang gelap. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa pulang. Bukan ke rumah, tapi ke perasaan yang selama ini ia tinggalkan.

Keesokan paginya, Lira berdiri di depan pusara ibunya. Langit pagi masih kelabu. Angin menyibak kerudungnya pelan.

“Ibu... aku tidak tahu bagaimana cara melupakan. Tapi mungkin... aku bisa belajar memaafkan. Aku mengerti sekarang. Meski terlambat.”

Ia membacakan surat balasan. Surat yang ia tulis semalaman. Isinya tak panjang, tapi penuh jeda, seperti suara yang terbata-bata dalam tangis yang ditahan.

“Aku tidak menyesal pergi, Bu. Tapi aku menyesal tak sempat kembali lebih awal. Terima kasih... karena mencintaiku meski aku tak tahu.”

Ia mencium nisan kayu itu perlahan, menaruh setangkai bunga kenanga di atas tanah basah. Lalu berjalan pulang.

Di rumah, ia menyalakan kompor tua dan merebus air untuk teh, seperti yang biasa dilakukan ibunya. Sambil menunggu air mendidih, ia membuka jendela, membiarkan cahaya matahari pagi masuk.

Siang itu, ia duduk di beranda, menulis ulang surat ibunya dalam buku harian baru. Bukan untuk disimpan. Tapi untuk dikenang. Agar ia tak lupa, bahwa cinta bisa tinggal diam, tapi tidak pernah mati.

Matahari perlahan tenggelam. Warna jingga menyelimuti langit seperti pelukan terakhir. Lira memandangnya lama. Ada damai yang baru. Ada luka yang pelan-pelan berubah menjadi ruang kosong, bukan karena hilang, tapi karena diterima.

“Aku pulang, Bu,” ucapnya lirih.

Tak ada jawaban. Tapi kali ini, Lira tidak lagi merasa sendirian. Malam turun perlahan. Di dapur, Lira menyimpan teh yang belum diminum dalam termos tua. Lalu mengambil kain yang dilipat rapi di lemari ibunya. Aroma khas kampung memenuhi napasnya. Ia menyusunnya satu per satu di peti kecil milik ibunya yang selama ini terkunci. Di dalamnya, selain kain dan buku-buku doa, tersimpan foto-foto lama: dirinya saat kecil, ibunya yang tersenyum, dan satu foto yang membuat Lira tercekat foto dirinya di wisuda, diam-diam diambil dari kejauhan.

Ternyata ibunya datang. Tidak muncul, tidak menyapa. Tapi hadir. Dalam diam. Dalam jarak. Dalam ketulusan yang tak mencari sorot.

Dan malam itu, Lira menulis satu kalimat besar di halaman pertama buku hariannya:

"Yang pergi belum tentu menghilang. Yang diam belum tentu tidak mencintai."

Keesokan harinya, saat langit menggantung mendung tipis dan kabut pagi menggeliat di sela-sela batang pohon jati, Lira berjalan ke pasar desa. Wajah-wajah asing menyambutnya, namun satu dua orang mulai mengangguk dan tersenyum mengenali. Di warung kopi, seorang nenek menatapnya lama, lalu berkata, "Kau Lira, ya? Anak Bu Kartini..."

Lira mengangguk pelan. "Iya, Nek."

"Ibumu sering mampir ke sini, duduk diam, hanya untuk mendengar orang-orang bercerita tentangmu. Kadang ia menangis sendiri."

Lira menggigit bibir. Tangannya mengepal di bawah meja.

Ia kembali ke rumah dengan keranjang penuh sayuran, seperti kebiasaan ibunya setiap hari Jumat. Ia membersihkan lantai, menata meja, lalu menyalakan radio tua yang sudah berdebu. Suara gamelan lembut mengalun dari balik speaker yang retak, mengisi rumah dengan gema masa lalu.

Hari berganti hari. Lira mulai tinggal. Tidak hanya singgah. Ia merawat kebun kecil di samping rumah, menanam kenanga dan melati. Ia memperbaiki jendela yang patah, mengganti atap bocor, dan membuka lembar demi lembar buku harian ibunya. Tiap kalimat menjadi dialog diam, percakapan yang tak pernah sempat terjadi.

Dan setiap sore, ia duduk di beranda, menyeruput teh, menatap senja. Kadang angin membawa aroma dapur, kadang suara burung gereja menyelinap ke sela-sela sunyi. Tapi tak satu pun dari itu membuatnya merasa kosong.

Karena kali ini, ia tahu: luka tak selalu harus hilang agar bisa sembuh. Kadang, ia hanya perlu diberi tempat.

Lira mulai menulis kembali. Bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk siapa pun yang pernah merasa terputus dari asal. Ia menuliskan kisah ibunya, menyusun ulang kenangan seperti mozaik yang lama berserakan. Di akhir setiap tulisan, ia selalu menambahkan satu kalimat, seolah untuk mengingatkan dirinya sendiri, "Yang mencintai tak selalu bersuara, tapi jejaknya abadi dalam diam."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelaki yang Menghidupkan Senja

Sembagi Arutala