Rasa yang Tertinggal di Ujung Senja
Ia tak datang karena
rindu. Ia datang karena surat. Sebuah amplop putih kusam dengan cap pos dari
kampung mengabarkan kematian ibunya.
Rumah itu hening. Hanya
suara langkah kakinya yang menggema pelan. Debu menempel di setiap sudut
ruangan. Di meja ruang tamu, ia menemukan sebuah buku tua
buku harian milik ibunya.
Ia membukanya dengan ragu. Tulisan tangan yang ia kenali perlahan membuka luka
lama.
“Untuk Lira, yang selalu
Ibu rindukan dalam doa...”
Halaman-halaman itu
membawa Lira mundur. Ke usia tujuh belas. Ke malam ketika ayahnya memaksanya
menikah dengan lelaki yang bahkan tidak ia kenal, hanya karena tumpukan utang
yang tak sanggup ayahnya bayar. Ia menolak, tapi yang ia dapat hanyalah kemarahan.
Ia dikurung. Dipukul. Ditampar. Dan saat malam menenggelamkan suara, Lira
kabur. Ia pergi membawa luka, membiarkan segalanya terbakar di belakangnya.
Selama ini ia hidup di
kota. Bertahan. Menjadi kuat karena terpaksa. Ia pikir ibunya membiarkannya. Ia
pikir ibunya diam. Tapi kini, di antara tulisan-tulisan itu, ia menemukan suara
ibunya yang tak pernah sampai padanya.
Hari mulai berganti malam
ketika Lira berjalan ke kamar ibunya. Aroma kayu tua menyeruak dari lemari
tempat ibunya menyimpan kain dan buku. Di laci paling bawah, tersembunyi rapi
di bawah tumpukan sajadah, ia menemukan sepucuk surat yang belum terkirim. Ditujukan
padanya. Tertanggal dua tahun lalu.
“Maafkan Ibu. Aku tak
pernah bisa menyelamatkanmu. Tapi aku selalu mengawasimu dari jauh. Uang
kuliahmu, pekerjaan pertamamu, semua Ibu tahu. Bukan karena Ibu menguntit, tapi
karena Ibu ingin merasa masih jadi Ibu.”
Surat itu menamparnya
lebih keras dari tamparan ayahnya dulu. Air matanya mengalir begitu saja,
seolah semua dinding yang selama ini ia bangun tiba-tiba runtuh. Seluruh
tubuhnya gemetar. Ia menangis bukan karena marah. Tapi karena sesal yang tak
bisa ditukar. Karena kehilangan yang tak lagi bisa dijangkau.
Di luar, suara jangkrik
menggantikan suara burung. Lira duduk di samping jendela, memandangi halaman
yang gelap. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa pulang. Bukan ke
rumah, tapi ke perasaan yang selama ini ia tinggalkan.
Keesokan paginya, Lira
berdiri di depan pusara ibunya. Langit pagi masih kelabu. Angin menyibak
kerudungnya pelan.
“Ibu... aku tidak tahu
bagaimana cara melupakan. Tapi mungkin... aku bisa belajar memaafkan. Aku
mengerti sekarang. Meski terlambat.”
Ia membacakan surat
balasan. Surat yang ia tulis semalaman. Isinya tak panjang, tapi penuh jeda,
seperti suara yang terbata-bata dalam tangis yang ditahan.
“Aku tidak menyesal
pergi, Bu. Tapi aku menyesal tak sempat kembali lebih awal. Terima kasih...
karena mencintaiku meski aku tak tahu.”
Ia mencium nisan kayu itu
perlahan, menaruh setangkai bunga kenanga di atas tanah basah. Lalu berjalan
pulang.
Di rumah, ia menyalakan
kompor tua dan merebus air untuk teh, seperti yang biasa dilakukan ibunya.
Sambil menunggu air mendidih, ia membuka jendela, membiarkan cahaya matahari
pagi masuk.
Siang itu, ia duduk di
beranda, menulis ulang surat ibunya dalam buku harian baru. Bukan untuk
disimpan. Tapi untuk dikenang. Agar ia tak lupa, bahwa cinta bisa tinggal diam,
tapi tidak pernah mati.
Matahari perlahan
tenggelam. Warna jingga menyelimuti langit seperti pelukan terakhir. Lira
memandangnya lama. Ada damai yang baru. Ada luka yang pelan-pelan berubah
menjadi ruang kosong, bukan karena hilang, tapi karena diterima.
“Aku pulang, Bu,” ucapnya
lirih.
Tak ada jawaban. Tapi
kali ini, Lira tidak lagi merasa sendirian. Malam turun perlahan. Di
dapur, Lira menyimpan teh yang belum diminum dalam termos tua. Lalu mengambil
kain yang dilipat rapi di lemari ibunya. Aroma khas kampung memenuhi napasnya.
Ia menyusunnya satu per satu di peti kecil milik ibunya yang selama ini
terkunci. Di dalamnya, selain kain dan buku-buku doa, tersimpan foto-foto lama:
dirinya saat kecil, ibunya yang tersenyum, dan satu foto yang membuat Lira
tercekat foto dirinya di wisuda, diam-diam diambil dari kejauhan.
Ternyata ibunya datang.
Tidak muncul, tidak menyapa. Tapi hadir. Dalam diam. Dalam jarak. Dalam
ketulusan yang tak mencari sorot.
Dan malam itu, Lira
menulis satu kalimat besar di halaman pertama buku hariannya:
"Yang pergi belum
tentu menghilang. Yang diam belum tentu tidak mencintai."
Keesokan harinya, saat
langit menggantung mendung tipis dan kabut pagi menggeliat di sela-sela batang
pohon jati, Lira berjalan ke pasar desa. Wajah-wajah asing menyambutnya, namun
satu dua orang mulai mengangguk dan tersenyum mengenali. Di warung kopi,
seorang nenek menatapnya lama, lalu berkata, "Kau Lira, ya? Anak Bu
Kartini..."
Lira mengangguk pelan.
"Iya, Nek."
"Ibumu sering mampir
ke sini, duduk diam, hanya untuk mendengar orang-orang bercerita tentangmu.
Kadang ia menangis sendiri."
Lira menggigit bibir.
Tangannya mengepal di bawah meja.
Ia kembali ke rumah
dengan keranjang penuh sayuran, seperti kebiasaan ibunya setiap hari Jumat. Ia
membersihkan lantai, menata meja, lalu menyalakan radio tua yang sudah berdebu.
Suara gamelan lembut mengalun dari balik speaker yang retak, mengisi rumah dengan
gema masa lalu.
Hari berganti hari. Lira
mulai tinggal. Tidak hanya singgah. Ia merawat kebun kecil di samping rumah,
menanam kenanga dan melati. Ia memperbaiki jendela yang patah, mengganti atap
bocor, dan membuka lembar demi lembar buku harian ibunya. Tiap kalimat menjadi
dialog diam, percakapan yang tak pernah sempat terjadi.
Dan setiap sore, ia duduk
di beranda, menyeruput teh, menatap senja. Kadang angin membawa aroma dapur,
kadang suara burung gereja menyelinap ke sela-sela sunyi. Tapi tak satu pun
dari itu membuatnya merasa kosong.
Karena kali ini, ia tahu:
luka tak selalu harus hilang agar bisa sembuh. Kadang, ia hanya perlu diberi
tempat.
Lira mulai menulis
kembali. Bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk siapa pun yang pernah merasa
terputus dari asal. Ia menuliskan kisah ibunya, menyusun ulang kenangan seperti
mozaik yang lama berserakan. Di akhir setiap tulisan, ia selalu menambahkan satu
kalimat, seolah untuk mengingatkan dirinya sendiri, "Yang mencintai tak
selalu bersuara, tapi jejaknya abadi dalam diam."
Komentar
Posting Komentar