Sembagi Arutala

 ’’Usai gelap terbitlah terang, sebuah ungkapan dari RA Kartini yang menunjukkan bahwa setiap orang berhak untuk mendapatkan sebuah masa depan yang cerah.’’

  ketika sang matahari mulai menggelincirkan posisinya untuk beristirahat, suasana sunyi selalu menemani gadis remaja  berusia tujuh  belas  tahun itu, yah tepatnya kini dirinya berada di kelas akhir dan dirinya selalu menginginkan agar dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, dirinya harus menghadapi sebuah pahitnya kehidupan, tanpa mengeluh tubuh kecilnya harus berjuang sendiri demi sebuah masa depan, dia gadis remaja yang penuh semangat dan tanpa malu setiap harinya dia menjual beberapa makanan ringan.

’’ Nak..tolong maafkan ibu yah.. seharusnya bukan kamu yang menafkahi kami’’ ucap Wanita paruh baya dengan  kondisi badan yang kian hari semakin melemas.

’’Ibu ini adalah kewajibanku..aku akan usahakan semuanya demi ibu’’ jawabku memeluk tubuh beliau.

’’Terima kasih nak semoga Allah membalas semua kebaikanmu dan ibu berharap agar kedepannya kamu menjadi orang sukses’’ sambungnya.

   Memang jika kita membahas sesuatu yang berhubungan dengan orang tua maka tanpa disadari kita akan teringat bagaimana perjuangan mereka dalam membesarkan kita, sebagai anak kita harus merawat, mematuhi segala sesuatu yang telah di tetapkan oleh orang tua.

’’Ibu jika engkau menginginkan sesuatu tolong bilang ke zafa yah Bu..zafa akan mengusahakan semuanya demi Ibu’’ ucapku, di dalam hati sudah berjanji bahwa aku akan terus berbakti kepadanya.

’’Ibu berpesan apapun masalah kedepannya tolong teruslah menggapai impianmu nak..tetaplah berpendidikan agar kamu tau bahwa dengan berpendidikan dapat mengangkat derajat kami sekeluarga.. kamu harapan satu satunya bagi kami..janganlah kamu meniru saudara saudaramu itu yah nak’’ ucapnya sambil mengelus kepalaku.

’’Baik ibu insyaallah..zafa berjanji akan selalu mendampingi ibu dan bapak’’ ucapku memeluk tubuh beliau.

   Malam itu sungguh malam yang sangat menyentuh  hati bagi zafa, ia kini memiliki semangat yang membara untuk menaikkan derajat orang tuanya, serta ingin membuat keadaan keluarga semakin lebih baik lagi, dirinya berjanji akan menyatukan kembali anggota keluarganya dan menjadikannya kembali sebagai keluarga cemara.

’’Aku harus bisa menaikkan derajat keluarga ini, aku berjanji akan menempuh Pendidikan yang setinggi tingginya’’ ucapku dalam hati.

  Semilir angin menemaniku di malam ini, banyak harapan yang harus terwujud dan ada cita cita yang harus tercapai, aku akan berusaha yang terbaik untuk hal itu.

’’Zafa…’’ ucap laki laki paruh baya berjalan mendekat.

’’Ada apa ayah?’’ sahutku berjalan mendekat kearah laki laki tersebut.

’’Ayah hanya ingin berpesan agar kamu sekolah yang rajin yah, jangan sampai seperti Ayah yang hanya menempuh Pendidikan terakhir  di jenjang SMP’’ ucapnya, mengelus lembut kepalaku.

  Seringkali aku berpikir bagaimana jika aku gagal menjadi anak yang diharapkan oleh keduanya? tuhan aku hanya menginginkan agar kedua orang tuaku selalu di berikan panjang umur, aku ingin keduanya dapat melihat anak bungsunya sukses.

’’Aku yakin aku pasti bisa melewati semua tantangan ini’’ ucapku dengan penuh keyakinan dan aku berjanji bahwa aku akan melewati apapun tantangannya.

  Suara ayam berkokok mulai terdengar, kicauan suara burung  seolah menyambutku di pagi ini. Matahari mulai menampakkan dengan semburat cahaya cantik milikknya, pagi ini apel akan di laksanakan lebih cepat dari apel minggu lalu, aku harus berangkat lebih awal karena keseharianku aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki sejauh empat kilo meter perharinya di karenakan kedua orang tuaku mengalami lumpuh akibat penyakit yang menyerang tubuh kedua orang tuaku.

’’Zafa..’’ ucap laki laki paruh baya itu.

’’Iya ayah ada apa?’’ jawabku berjalan mendekat.

’’Semangat yah nak belajarnya Ayah selalu mendoakan yang terbaik untukmu nak’’ dengan lembut beliau mengusap kepalaku, kemudian beliau menatap kearahku dengan penuh kasih sayangnya, mata sayu beliau memberi kesan yang mendalam bagiku. Banyak harapan yang beliau harapkan dariku, walaupun seluruh saudara saudaraku telah sukses.

  Namun satu hal yang tidak aku sukai dari mereka adalah mereka jarang sekali menjenguk kami dengan alas an mereka sibuk dengan dunia masing-masing.

’’Aku berjanji Ayah insyaallah aku akan penuhi kemauanmu  Ayah ’’ ucapku dalam hati.

’’Baiklah Ayah Zafa  berangkat sekolah dulu assalamualaikum’’ ku cium telapak tangan beliau, telapak tangan yang selalu mengusahakan apapun yang aku inginkan, telapak tangan yang memberikan seluruh kasih sayangnya, telapak tangan yang selalu sigap menolongku, akan aku usahakan yang terbaik bagimu.

’’Waalaikumsalam hati hati nak’’ lambaian tangan yang di berikan membuatku semakin bersemangat dalam menempuh masa depan yang lebih cerah, aku yakin dengan tekat yang kuat aku dapat melewati segala tantangan yang ada.

’’Ayah tunggu anakmu sukses yah’’ ucapku dalam hati.

  Seringkali aku di olok-olok oleh teman-temanku karena mereka beranggapan bahwa orang sepertiku ini tidak pantas untuk menjadi orang sukses, namun aku menantang akan hal itu karena aku yakin semua orang berhak untuk sukses namun semua itu akan didapatkan Ketika seseorang ingin berusaha untuk menjadi sukses.

’’Zafa..’’ seseorang memanggilku dari arah kejauhan, aku menolehkan pandanganku ke arahnya.

’’Zahra..?’’ jawabku.

  Mata indah miliknya menatap ke arahku, dia adalah teman terbaikku, Zahra selalu mendukungku, dia juga yang selalu mengguatkanku di saat aku terjatuh dan selalu ada untuk membantuku, aku tidak tau bagaimana cara untuk membalas seluruh kebaikan gadis itu, aku bersyukur memiliki seorang sahabat sepertinya.

’’Tumben datang sedikit terlambat?’’ ucap Zahra menepuk pundakku.

’’Masih mengurus yang lain’’ jawabku sambil tersenyum kearahnya.

’’Owalah mana jualanmu sini aku bantu untuk menjualnya’’ gadis itu kini mengambil seluruh barang daganganku dan pergi begitu saja, akupun langsung berlari mengejar gadis itu, jujur sebenarnya aku sedikit sungkan dengannya.

 Dengan inilah aku membiyai pembayaran sekolahku, uang ini aku gunakan untuk pembiyaan sekolah, dan pengobatan kedua orang tuaku.

’’Zafa..kamu di panggil sama Bu Khalif di ruang guru’’ ucap Salsa yang tak sengaja berpapasan denganku.

  Aku berjalan cepat untuk menemui beliau, aku tidak tau apa yang akan beliau sampaikan nanti dan sesampainya disana aku langsung mencari keberadaan beliau.

‘’’Assalamualaikum Bu Khalif?’’ ucapku mencari keberadaan beliau.

’’Waalaikumsalam Zafa sini nak’’ jawab beliau.

’’Maaf Bu ada apa yah?  Maaf Bu sepertinya saya kurang dalam hal pembayaran’’ ucapku karena uang yang aku kumpulkan kurang cukup untuk membayar spp bulan ini.

’’ Bukan begitu nak.. Ibu sangat terinspirasi darimu sebab tanpa malu kamu mau menurunkan gengsi dengan berjualan dan terlebih lagi dari uang itu digunakan untuk mebayar spp sekolah, serta mengganti peran orang tua sebagai tulang  punggung keluarga, kamu hebat nak dan kabar baiknya lagi kami dari pihak sekolah ingin memberikan sebuah beasiswa untuk melanjutkan Pendidikan di jenjang perkuliahan, selamat yah nak,  kamu pantas untuk mendapatkan ini karena kamu menjadi salah satu siswa terbaik di sekolah, semoga kedepannya bisa lebih baik lagi’’ ucap beliau dengan wajah yang bahagia.

’’Beneran Bu? Terima kasih Bu sungguh ini kabar yang baik’’ dengan perasaan yang gembira akupun langsung melakukan  sujud syukur karena mendapat kesempatan beasiswa ini.

Seseorang berhak mendapatkan masa depan cerah mereka, entah dari berbagai golongan manapun. Asalkan dirinya mau berusaha untuk menggapainya.

Komentar