Sebatas Lengkara

     Kau seperti enigma yang fatamorgana, namun aku selalu yakin bahwa kita akan amerta hingga aku terlupa bahwa kita hanya sebuah kisah yang lengkara.

’’Bisa tidak ya aku dapat menemaninya setiap waktu?’’  ucapku, memandangi tubuh laki-laki tersebut.

’’Hei, ada apa?’’ ucapnya menepuk pundakku.

’’Tidak ada’’ jawabku, sembari menoleh kearahnya.

’’Ayo pulang’’ sambungnya kembali, sembari tersenyum kearahku.

’’Bagaimana jika suatu saat kita akan berpisah, sungguh aku tidak menginginkan hal itu terjadi’’ ucapku dalam hati, seperti terdapat sebuah kecemasan tersendiri mengenai hal ini.

’’Ada apa? Kok kamu merasa khawatir? Coba cerita’’ ujarnya, menatapku dari kaca spion motor menimbulkan senyuman khas miliknya.

’’Tidak ada kok, semua baik-baik saja’’ ucapku kembali meyakinkan laki-laki tersebut.

’’Kalau ada masalah bilang ya, jangan dipendam sendiri’’ jawabnya dengan sangat ramah.

            Bagaimana aku tidak bersyukur memiliki seorang laki-laki yang begitu baik, yang tidak akan membiarkan wanitanya merasa sedih sedikitpun, terkadang aku berpikir bagaimana jadinya aku sendiri tanpa ada hadirmu? Terimakasih banyak.

’’Beli ice cream yuk, aku tau kamu sedang memikirkan sesuatu’’ ucapnya, dia pun membelokkan motornya itu menuju sebuah kedai ice cream.

’’Dia begitu baik sekali, entah bagaimana kedua orang tuanya mendidik dirinya menjadi seorang lelaki yang sangat baik ini’’ aku pun kagum dengan kepribadian dirinya yang begitu menghargai seseorang.

’’Aku pesankan ice cream rasa cokelat, karena kamu suka dengan rasa itu’’ sederhana sih, tapi dia mebuatku bahagia dengan cara kecilnya itu.

’’Kok kamu tau kalau aku suka rasa cokelat?’’  tanyaku, namun dirinya sama sekali tidak menjawab pertanyaanku.

’’Itu tidaklah penting bagiku, namun kebahagianmu adalah kebahagianku juga’’ jawabnya, membuatku semakin bersyukur dapat memiliki dirinya.

’’Heran banget sama satu orang ini?’’ ucapku, menatap kearahnya.

’’Mau bagaimana lagi?’’ jawabnya dengan senyuman.

’’Kok ada orang seperti ini’’ sambungku.

Entah bagaimanapun kedepannya, aku berharap kita akan terus bersama dan aku tidak ingin bersama dengan yng lain.

’’Janji ya, kita lewati bersama-sama’’ sambungku lagi.

’’Insya Allah jika kita ditakdirkan bersama’’ ucapnya, entah mengapa pada hari itu aku memiliki firasat yang tidak baik terhadap cowok itu.

            Semenjak hari itu, pikiranku sungguh tidak terkendali aku terus saja memikirkan bagaimana jika  kalau ia tiba-tiba pergi begitu saja ?

’’Sampai jumpa, jaga dirimu baik-baik’’ ucapnya, melambaikan tangan kearahku.

’’Baik, kamu juga jaga dirimu baik-baik, sampai jumpa lagi’’ akupun membalas lambaian tangan dirinya dan tersenyum kearahnya.

            Sorot mata yang begitu indah, menyiratkan sebuah kebahagian yang terpancar, senyuman khas itu masih terlintas di benakku, seorang pria yang begitu baiknya kepadaku, tuhan aku tidak menginginkan lebih dari ini, namun aku hanya menginginkan tolong jaga dia dimanapun dirinya berada, sungguh aku sangat menyanyanginya.

’’Jika denganmu aku dapat bahagia, lantas kenapa aku harus mencari sosok selain dirimu?’’ ucapku, mengingat momen indah yang terjadi pada hari ini.

’’Valza?’’ ucap seseorang menepuk pundakku.

’’Ada apa?’’ jawabku, dirinya menyadarkan lamunanku.

’’Kamu sehatkan? Kok pucet?’’ ujarnya, tangannya kini memegang dahiku untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja.

’’Alhamdulillah sehat, tapi aku mencemaskan suatu hal’’ ujarku yang masti memmikirkan bagaimana jika suatu saat laki-laki itu pergi begitu saja.

’’Ada apa Valza? coba cerita’’ jawabnya menatap lekat kearahku.

’’Kamu pernah tidak mencemaskan seseorang?’’ ujarku kepadanya.

’’Pernah, ada apa yang terjadi? Kalian baik-baik saja kan? Atau kalian sedang bertengkar?’’ ujarnya, namun aku hanya menggelengkan kepala.

’’Mulutku mungkin diam, tapi mengapa hati ini terus saja berisik memikirkan hal itu’’ ujarku dalam hati.

            Seiring waktu, aku mencoba menyibukkan diriku, meyakinkan hati bahwa segalanya akan baik-baik saja. Namun, hari itu tiba dengan sangat tiba-tiba. Pagi yang biasa berubah menjadi kabar buruk yang menghantamku seperti badai. Telepon berdering, suara yang di seberang mengatakan sesuatu yang tidak ingin kudengar:

"Dia mengalami kecelakaan tadi malam. Maaf, dia tidak tertolong."

Duniaku runtuh seketika. Kaki ini terasa lumpuh, seluruh tubuhku gemetar. Kupegang erat ponsel di tanganku, berharap ini hanya mimpi buruk. Tapi kenyataan berkata lain.

Ketika aku melihatnya untuk terakhir kali, wajahnya tampak damai. Namun senyumnya, yang selalu membuatku merasa aman, tak akan pernah kulihat lagi. Aku hanya bisa berdiri di sana, air mata mengalir tanpa henti.

"Kenapa kau tidak bilang bahwa kau akan pergi selamanya?" bisikku dalam hati.

Aku menemukan sebuah surat di sakunya. Tulisannya familiar, itu tulisan tangan miliknya:

"Valza, jika takdir memisahkan kita lebih cepat dari yang kita harapkan, ingatlah bahwa aku bahagia bisa mengenalmu. Jangan tangisi kepergianku terlalu lama, karena senyummu adalah alasan kebahagiaanku di dunia ini. Teruslah hidup dengan baik, untukku."

Aku menggenggam surat itu erat. Hari itu, aku belajar bahwa kehilangan seseorang yang kaucintai lebih dari dirimu sendiri adalah luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Setiap malam, aku memandang bintang-bintang di langit, berharap dia ada di sana, melihatku dengan senyumnya yang khas. Namun, yang tersisa hanyalah keheningan.

Dan di dalamnya, aku berbisik, "Selamat tinggal, cintaku."

            Meskipun kita hanya sebatas kisah yang lengkara, namun percayalah aku akan terus mengucap litaniku ini untukmu wahai atma yang tenang, beristirahat lah dengan tenang di alam sana, aku akan selalu merindukanmu, aku akan membiasakan diriku untuk baik-baik saja meski tanpa kehadiranmu.

~Valza Atara~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelaki yang Menghidupkan Senja

Rasa yang Tertinggal di Ujung Senja

Sembagi Arutala