Atma yang Tulus

            Aku tak tau apa arti sebuah ketulusan yang sebenarnya, namun mungkin bagi beliau arti sebuah ketulusan adalah sebuah cinta dan kasih sayang yang tak pernah berhenti beliau berikan kepada kami, yang selalu memberi tanpa mengharap lebih, yang selalu memberi apapun dengan segala ketulusan hati, walau kami sering mengecewakan dirinya.

’’ Nak, kamu belajar yang sungguh-sungguh yah, soal biaya biar ayah yang menanggungnya’’ ucap beliau yang hendak berangkat kerja.

’’Baiklah ayah, aku akan belajar dengan sungguh-sungguh’’ jawabku mencium punggung tangan lelaki hebat tersebut.

            Seorang laki-laki yang berjuang keras demi menghidupi dan membahagiakan keluarga kecilnya, dirinya sama sekali tidak pernah mengeluh dalam hal apapun bahkan disaat beliau terpuruk rapuh, beliau sama sekali tidak memperlihatkan kepada kami.

’’Assalamualaikum’’ ucap laki-laki hebat itu.

’’Waalaikumsalam ayah’’ jawab kami yang menunggu kepulangannya.

’’Ayah pasti capek?’’ ujarku kembali.

’’Tidak nak, ayah baik-baik saja, bagaimana dengan sekolahmu hari ini?’’

            Kalimat itu sering sekali beliau tanyakan kepadaku, tentang bagaimana keseharianku, bahkan tanpa aku sadari diriku sering mengeluh tentang kerasnya hidup, sering menangis ketika dunia berlaku tidak adil kepadaku, namun beliau saja yang telah lama menghadapi kehidupan ini sama sekali tidak pernah mengeluh, ketulusannya mengalahkan segala rintangan.

’’Ayah, apakah ayah pernah mengeluh saat membesarkanku?’’  ucapku, aku terfokus pada pemilik bola mata yang indah itu tersirat sebuah kasih sayang serta sebuah ketulusan yang begitu mendalam.

’’Kenapa begitu nak? tentu saja ayah sangat menyayangimu dengan penuh ketulusan hati, bagi ayah kalian adalah yang terpenting bagi ayah, kebahagian kalian adalah kebahagian ayah juga, lantas apa yang harus di keluhkan jika  keluarga  ini merasa sedih dan tidak bahagia, ayah tulus kepada kalian dan ayah juga berjanji akan selalu membuat kalian bahagia, tidak boleh ada yang bisa membuat keluarga kecil ayah ini menjadi sedih, ayah sangat menyayangi kalian’’  ucapnya.

Raut wajahnya yang teduh memberi sebuah arti mendalam bagiku, senyuman miliknya begitu indah sehingga tidak ada kesedihan sama sekali yang terlihat.

’’Ayah, apakah ayah akan meminta sebuah balasan atas semua yang telah ayah berikan?’’ ucapku yang sebenarnya menahan air mata yang hendak membahasi pipi.

’’Tidak nak, ayah sama sekali tidak meminta sebuah balasan atas apa yang selama ini ayah berikan kepada kalian, ayah hanya menginginkan kamu menjadi anak yang selalu bersykur dan tanpa henti untuk terus menjadi orang baik’’ ujarnya, tersenyum kearahku.

            Sang mentari mulai menampakkan diri dari ufuk timur, namun aku tidak melihat sosok ayah di setiap sudut ruang rumah.

’’Ibu, apakah ayah sudah berangkat?’’ ucapku.

’’Sebelum kamu terbangun ayah sudah berangkat nak’’ jawab beliau.

’’Ayah ketulusanmu sungguh besar sekali, aku berjanji suatu saat nanti aku akan membuatmu bangga sebagai balasan atas semua pengorbananmu’’ ucapku dalam hati.

’’ Nak kamu belajar yang giat yah’’ ucap Ibu menyiapkan hidangan makanan.

’’Iya Bu siap’’ jawabku sambil mengambil piring makan.

            Ayah bagaimana aku tidak bangga terhadapmu, engkau saja dengan penuh tanggung jawab memberi nafkah kepada kami, serta selalu berusaha memenuhi keinginan kami, terimakasih banyak ayah, engkau  sosok pahlawan yang paling kami sayangi.

’’Aku harus giat belajar mulai dari sekarang, aku ingin menjadi anak yang rajin dan juga pintar, kalau saja nilai ujianku tinggi pasti ayah bangga sekali’’ ucapku dalam hati, aku berjanji akan lebih giat lagi dalam belajar.

            Semenjak hari itu aku terus saja giat belajar, aku ingin menggapai cita-citaku, dan tentu saja ingin membuat mereka bangga, ayah aku akan tepati janjiku untuk terus giat belajar.

’’Aku pasti bisa mendapat nilai yang bagus’’ ucapku dalam hati dengan penuh keyakinan.

’’Bagaimna pun kedepannya aku harus berusaha lebih baik lagi’’ ucapku dengan semangat yang membara dalam jiwa.

’’Assalamualaikum nak, ayah berikan ini untukmu’’ ucap beliau menyodorkan sebuah hadiah.

’’Waalaikumsalam ayah, loh ayah?’’ jawab beliau.

’’Ini nak ayah punya sesuatu buat kamu’’ ucap beliau dengan senyum penuh kasih sayangnya.

’’Tapi ayah aku tidak mendapatkan juara apapun’’ aku merasa sangat bersalah terhadap diriku, bagaimana bisa ayah selalu mengapresiasikan putri kecilnya dalam berbagai hal, sedangkan putri kecil tersebut sering membuat dirinya kecewa.

’’Sebagai hadiah apresiasi ayah terhadap belajarmu saat ini, semoga sukses selalu’’ ucapnya kembali, kemudian berjalan pergi.

’’Terima kasih ayah, semoga rezeki ayah terus mengalir, sehat selalu ayah’’ ujarku dalam hati sambil memandangi hadiah tersebut.

            Tak sengaja aku menemukan sebuah informasi di internet tentang perlombaan cerpen yang bertema bebas, akupun mencoba untuk mengikuti perlombaan itu dan aku akan menceritakan kepada dunia tentang sesosok lelaki hebat yang tulus memberikan kebahagian dalam hidupku dan selalu mendukung putri kecilnya untuk mengeksplor dunianya. Terima kasih ayah, we love you dad. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelaki yang Menghidupkan Senja

Rasa yang Tertinggal di Ujung Senja

Sembagi Arutala