Suara Hati Renjana
’’Sampai jumpa, aku berharap kita akan bertemu kembali’’
ucapku dalam hati, menatap Langkah kakimu yang menjauh dariku.
’’Hai, sudah jangan bersedih lagi, aku yakin suatu saat nanti
dia akan kembali’’ ujar sesosok wanita di belakangku.
’’Bagaimana aku tidak bersedih, aku khawatir jika ini adalah sebuah pertemuan terakhir,
aku takut kamu tidak akan kembali kepadaku’’ ucapku, karena aku memiliki
firasat buruk terhadapnya.
Sejak hari
itu aku terus saja mengkhawatirkanmu setiap waktu, aku tak bosan untuk
mendoakanmu, ku tatap foto itu sebagai oba tatas kerinduan ini, berharap agar
kau cepat kembali pulang.
’’Apakah dia disana merindukanku? Bagaimana jika dia
menemukan sosok yang lebih baik dari pada aku’’
Entah
bagaimana aku bisa tenang, jika aku terus mengkhawatirkanmu sedangkan kamu
tidak sama sekali mengkhawatirkanku. Bahkan sehari itu kamu tidak mengirim
pesan untukku.
’’Ledisya, ayolah jangan bersedih, aku yakin dia akan kembali
lagi’’ ucapnya, menepuk pundakku.
’’Aku pun berharap begitu’’
Sore itu
ku datangi tempat yang sering kita kunjungi Bersama, kenangan it uterus saja
mengusik pikiranku, berharap kamu akan cepat kembali untuk membalas kerinduan
ini.
’’Dia sekarang sedang apa yah?’’
ucapku dalam hati, tak bisa aku bohongi perasaanku sendiri kali ini aku
sungguh merindukanmu, sejak kepergianmu itu aku merasa sendiri tanpa ada kamu
disampingku.
Hingga suatu hari itu
aku mendengar bahwa kau telah menemukan sosok yang dapat membahagiakanmu setiap
saat, yang selalu menemanimu di kala kamu berada jauh dariku.
’’Ledisya, aku dengar dia sudah Bersama dengan orang baru?’’ ucapnya,
sungguh aku menahan rasa sakit ini saat dirinya mengucapkan hal itu.
’’Kamu memang benar, dia kini sudah menemukan orang baru yang lebih baik
dari pada aku, yang selalu menemaninya di saat dirinya jauh dariku’’
Kamu memutuskan untuk
pergi merantau, aku menerima itu dan selalu mendukungmu, namun bisakah kamu
membalas setiap kerinduan ini dengan akhir yang Bahagia? Kepercayaan ini selalu
aku kuatkan bahwa kamu tidak akan menduakanku, tapi kenyataannya aku salah! Aku
terlalu dalam untuk menelusuri jejak rindu ini, terimakasih telah pernah
menjadi bagian cerita dalam kerinduanku. Semoga kamu Bahagia dengan pilihanmu
itu. Samudra rindu itu akan terus menjadi milikmu.
Komentar
Posting Komentar