Sayap Oranye yang Terlupakan
Di sebuah kota kecil yang hampir saja terlupa di peta, hiduplah seekor kucing kecil berbulu oranye yang lahir dalam keadaan lumpuh, dirinya di lahirkan dengan kondisi berbeda dengan saudara kucing lainnya. Mungkin ini memang takdir yang terbaik baginya. Hingga suatu saat dirinya memutuskan untuk pergi dari keluarganya dan menjalani hidup seorang diri, mungkin kali ini dirinya hanya berharap jika suatu saat ada seorang manusia yang mau merawatnya.
Tubuhnya kecil dan lemah,
kaki belakangnya tidak mampu menopang tubuhnya. Walaupun dirinya harus berusaha
untuk berjalan meski kakinya mengalami kelumpuhan, ia tetap menelusuri jalanan
dengan sekuat tenaga yang ada dalam dirinya dan yakin pasti ada hal yang indah
di depan sana. Kucing berbulu oranye tersebut melihat kearah sekitar, melihat
teman sebayanya yang asik bermain dengan kucing lainnya, dirinya hanya menatap dari
kejauhan berharap aka nada keajaiban yang datang.
Suatu hari saat kucing
itu sedang berteduh di depan toko dirinya kerap di usir oleh manusia karena
mungkin merasa iba terhadap kucing tersebut. Kucing oranye itu akhirnya pergi
dari toko itu. Ia tetap berjalan dengan mengandalkan kedua kaki depan yang masih
berfungsi, hingga kucing itu tak sengaja bertemu dengan seorang anak manusia
yang memberikan makanan kucing padanya, baru kali ini dirinya memakan makanan
khusus kucing, karena setiap hari dirinya hanya memakan sisa makanan.
Anak laki-laki tersebut
kemudian menggendong kucing itu dan membawanya pulang ke rumah. Terlihat dari
raut wajah kucing berbulu oranye itu tersirat wajah bahagia, karena akhirnya
dirinya di rawat oleh manusia layaknya kucing pada umumnya, anak laki-laki itu
kemudian meberikan sebuah nama kepada kucing itu dengan sebutan Renga.
Saat dirinya di bawah ke
rumah anak laki-laki itu, kucing oranye merasa sangat nyaman tanpa harus
khawatir dengan apapun, dirinya yakin bahwa dirinya akan di rawat dengan
sepenuh hati oleh pemiliknya saat ini. Anak itu membawanya ke dalam sebuah
kendang kucing yang cukup besar dan di dalamnya sudah tersedia makanan kucing,
serta alas yang begitu nyaman. Dirinya bersyukur karena masih ada orang yang
ingin merawat dirinya, hingga kucing itu berjanji pada dirinya sendiri bahwa
suatu saat nanti dirinya akan membalas budi terhadap tuannyasaat ini.
Hari-hari Renga dipenuhi
ketenangan, diam di jendela kamar, menatap langit yang berubah warna, atau
mendengarkan Tama membaca puisi dengan suara pelan. Tak ada yang menyangka
bahwa di balik keheningan itu, Renga menyimpan rasa ingin tahu yang membara. Ia
sering memimpikan dirinya terbang tinggi, menembus awan, menyusuri tepi
pelangi, dan mencari sesuatu yang belum pernah ia lihat yakni arti dari
kehadirannya sendiri.
Kucing oranye itu terus
bermimpi bahwa di dalam dunia ini pasti ada hal indah di luar sana. Dirinya
berfikir jika seandainya dirinya bisa melihat keindahan dunia dengan bebas,
tidak terbayangkan sebahagia apa nanti saat kucing itu merasakannya? Pasti sangat
indah bukan? Namun jika dirinya ingin melihat dunia dengan bebas maka bukan kah
dirinya harus berpisah dengan tuannya?
Pertemanan antara kucing
oren dan anak manusia itu semakin hari semakin dekat, seolah mereka tidak dapat
di pisahkan satu sama lain, kucing oren itu belajar banyak hal dari Tama, sejak
awal kedatangannya di rumah Tama ia membawa senyuman tersendiri bagi anak itu.
Dengan sabar anak laki-laki itu merawat kucing itu hingga tumbuh besar, namun
pertanyaan yang selalu ada di pikiran kucing itu apakah aku bisa menemani anak
laki-laki tersebut.
Waktu terus berjalan kini
kucing itu terus tumbuh, begitupun dengan anak laki-laki yang merawatnya. Anak
itu sekarang lebih sibuk dengan dunianya sendiri hingga ia terlupa bahwa ada
seekor kucing yang menunggunya untuk bermain seperti sedia kala.
Hingga suatu saat waktu
terus berjalan. Tama tumbuh dewasa, toko buku perlahan tutup, dan kota itu
semakin sepi. Suatu hari, hujan turun deras, dan dalam sunyi yang basah itu,
Tama tak kembali. Renga menunggu berhari-hari di ambang jendela, menatap jalan
yang kosong, hingga akhirnya ia sadar bahwa ia telah ditinggalkan.
Hari itu, untuk pertama
kalinya, sayap Renga bergerak. Perlahan, seolah mengingat fungsinya yang lama
terkubur. Ia melompat bukan dengan kakinya, tapi dengan keyakinan. Angin
menyambutnya, bukan dengan lembut, tapi dengan tantangan. Ia terbang, terhuyung,
lalu stabil, lalu meluncur menyusuri
langit di atas kota yang menua, menyusuri jejak yang pernah ditinggalkan Tama.
Ia tak tahu ke mana akan
pergi. Tapi ia tahu, bahwa dalam setiap sayap yang tumbuh, ada alasan yang tak
selalu bisa dijelaskan. Ia terbang bukan untuk mencari Tama, tapi untuk
mengingatkan dunia bahwa ia pernah ada, dan bahwa setiap luka bisa menjelma menjadi
kekuatan, jika diberi ruang untuk bernapas.
Komentar
Posting Komentar