Perempuan yang Mengarsipkan Hujan

 Di antara rintiknya, ada kenangan yang tak sempat diucapkan.

Hujan selalu datang tanpa permisi di rumah kecil itu, namun anehnya, tak pernah terasa asing. Sore itu, langit mulai menggelap lebih cepat dari biasanya. Semilir angin membawa bau tanah yang lembap, menyusup melewati celah-celah jendela kayu yang sudah sedikit lapuk. Di dalam rumah, aku duduk di lantai sambil merapikan buku-bukuku, sementara Arutala berlari kecil mengelilingi ruangan, tertawa tanpa alasan yang jelas.

’’Ibu… hujan!” seru Arutala dengan mata berbinar, menunjuk ke arah luar.

Di dapur sempit, Ibu menoleh sambil mengaduk air dalam panci. Perempuan itu tampak lelah, tetapi senyumnya tidak pernah benar-benar hilang. Hari itu, Ibu baru saja pulang dari pekerjaan serabutan, membersihkan rumah orang, lalu membantu berjualan di pasar. Namun, setiap kali hujan datang, ada sesuatu dalam dirinya yang selalu membuatnya menjadi lebih tenang.

’’Sudah mulai, ya…” kata Ibu pelan.

Tak lama, suara rintik pertama jatuh di atap seng tipis, lalu perlahan membasahi seluruh atap rumah. Adik kecilku langsung berlari ke pintu untuk keluar, tetapi aku terlebih dahulu menarik tangan kecil milik Arutala.

’’Nanti sakit, Arutala…” ucapku singkat.

Arutala mengerucutkan bibirnya, tetapi tak melawan. Kemudian adik kecilku duduk di dekat jendela, menempelkan wajahnya ke kaca yang mulai berembun. Tak lama kemudian, Ibu datang membawa tiga cangkir teh hangat yang sederhana. Ibu duduk di antara aku dan Arutala, membiarkan kehangatan kecil itu cukup untuk melawan dingin yang datang bersama hujan.

’’Dengar nak..” ujar Ibu pelan.

Aku pun langsung menoleh menatap wajah teduh wanita yang telah berjasa dalam kehidupanku. Aku selalu berusaha serius ketika Ibu mulai berbicara seperti ini.

’’Itu suara hujan, Ibu…” ujarku cepat, bangga dengan jawabanku sendiri.

Ibu kemudian tersenyum, lalu menggelengkan kepala pelan. ’’Bukan hanya itu, nak…”

Ibu menatap ke arah luar, ke arah air yang jatuh tanpa henti dari langit yang kelabu.

’’Hujan itu menyimpan kenangan,” ujar Ibu. Senyum tipis terukir di wajah yang penuh harapan.

Aku pun langsung terdiam setelah Ibu mengucapkan kalimat tersebut. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi entah mengapa terasa kalimat itu memiliki makna yang  dalam. Aku mencoba mendengarkan lebih saksama, bukan hanya suara air, tapi sesuatu yang seolah tersembunyi di baliknya.

’’Kenangan apa, Bu?” ujarku lirih

Ibu tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Ibu hanya mengusap kepalaku, lalu menarik adik kecilku lebih dekat ke dalam pelukannya.

’’Kenangan tentang hal-hal yang pernah kita cintai,”

Di luar, hujan semakin deras. Suaranya memenuhi seluruh ruangan rumah kecil itu, seperti sebuah cerita yang terus diulang tanpa pernah selesai. Aku tidak sepenuhnya mengerti. Tapi sore itu, untuk pertama kalinya, aku selalu mencoba mengingat suara hujan, seolah suatu hari nanti, aku akan benar-benar membutuhkannya.

Hujan hari itu turun lebih deras dari biasanya, bukan sekadar rintik yang menenangkan, melainkan jatuh dengan terburu-buru, seperti sesuatu yang ingin segera selesai. Sejak siang, langit sudah menggelap. Ibu memutuskan tetap pergi untuk melanjutkan pekerjaan meski aku sempat menahannya.

’’Jalannya licin, Bu…” ucapku pelan, berdiri di ambang pintu.

Ibu hanya tersenyum, merapikan kerudung yang sedikit basah oleh udara lembap. ’’Kita butuh makan, Nak. Ibu cepat pulang.”

Arutala yang berdiri di belakangku hanya melambaikan tangan kecil milik gadis tersebut.

’’Nanti pulang jangan lupa membawa gorengan, Bu!”

’’Iya, nak, nanti Ibu bawa pulang…” jawab Ibu sambil tertawa ringan, lalu melangkah pergi.

Tak lama setelah itu, hujan turun. Awalnya pelan, lalu berubah menjadi deras. Air memukul atap seng dengan suara yang keras, seperti sesuatu yang ingin memanggil perhatian. Angin berhembus kencang, membuat pintu berderit pelan. Aku duduk di dekat jendela, menatap jalanan yang mulai dipenuhi air. Aku tidak tahu kenapa, tetapi hatiku terasa tidak tenang, seolah sesuatu akan terjadi. Firasat buruk itu terus menghantui pikiranku.

Waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Sore mulai berubah menjadi petang, tetapi Ibu belum kunjung pulang ke rumah. Di luar, jalanan menjadi licin. Air mengalir deras di selokan yang hampir meluap. Beberapa orang berlari mencari tempat berteduh, sebagian lagi tetap memaksakan langkah di tengah hujan yang semakin tak bersahabat.

Di sebuah tikungan jalan yang sedikit menurun, Ibu berjalan cepat sambil menahan kantong plastik di tangan. Sanda basah; tanah di bawah licin, bercampur lumpur. Satu langkah. Lalu tanpa Ibu sadari kaki tersebut tergelincir. Tubuh Ibu jatuh dengan keras, membentur jalan yang basah, bersamaan dengan aliran darah yang membasahi jalanan aspal. Kantong plastik itu terlepas; isi kantong plastik tercecer terbawa air hujan.

Orang-orang di sekitar mulai panik. ’’Astaga! Ibu, hati-hati!”

Beberapa orang berlari mendekat, mencoba mengangkat tubuh wanita tersebut. Hujan terus turun tanpa jeda, membasahi semua: tanah, jalan, serta tubuh yang kini terbaring tak bergerak.

’’Cepat! Bawa ke pinggir!” ujar salah satu warga di sana.

Namun, waktu seolah berjalan lebih cepat dari usaha mereka. Di rumah kecil itu, aku masih duduk di dekat jendela menunggu kepulangan Ibu. Tanganku menggenggam ujung bajuku sendiri tanpa aku sadari. Hatiku  terus berdetak tak karuan. Firasat buruk itu terus saja menghantui.

’’Kenapa Ibu lama?” gumam Arutala dengan suara kecil.

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap hujan yang tak kunjung reda sampai akhirnya terdengar ketukan dari arah pintu. Pelan, lalu lebih keras. Aku berdiri, berjalan mendekat dengan langkah ragu. Saat pintu dibuka, beberapa orang berdiri di sana. Wajah mereka basah, entah karena hujan, entah karena sesuatu yang lain. Tidak ada yang langsung berbicara. Dan justru dari diam situlah aku mulai mengerti. Dunia yang aku kenal kini berhenti di sore yang penuh hujan.

Sore itu seakan dunia langsung berhenti setelah aku mendapati kabar bahwa ibuku telah meninggal dunia akibat tanpa sengaja tergelincir hingga terjatuh dan terbentur keras di jalanan yang licin. Tubuh Ibu kini tak bisa lagi bergerak. Bola mata yang indah kini tak dapat lagi kulihat. Senyuman dan semangat Ibu kini tak dapat menghidupkan suasana rumah kecilku. Pondasi kokoh rumah seakan ikut hancur setelah kepergian Ibu.

’’Kak, siapa mereka?’’ ujar adik perempuanku.

’’Oh, mereka orang-orang baik yang sudah menolong Ibu dek…”  jawabku, berusaha memikirkan cara agar adik perempuanku tidak menangis, karena aku paham sosok kecil yang bersamaku kini masih membutuhkan seorang Ibu.

            Tanpa berpikir panjang, aku langsung menghubungi saudara-saudara Ibu untuk memberitahu apa yang sudah dialami oleh Ibu. Air mataku terus membasahi pipi. Hatiku seolah teriris oleh sebuah kenyataan bahwa Ibu telah tiada. Pikiranku kini kacau memikirkan bagaimana caranya agar adik perempuanku dapat bahagia dan tumbuh sesuai dengan harapan Ibu. Tanganku gemetar saat menekan satu per satu nomor yang tersimpan. Napasku terasa berat, seolah ada sesuatu yang menahan di dada.

’’Assalamualaikum… Pak de…” suaraku lirih, nyaris tak terdengar.

Di seberang telepon, terdengar suara yang masih tenang; mereka belum mengetahui apa yang hendak kusampaikan. Aku menelan ludah, mencoba menguatkan diri, tapi kata-kata itu seperti duri yang harus kupaksakan keluar.

’’Pak de… Ibu…” suaraku patah. Hening sejenak. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh tanpa bisa dicegah. ’’Ibu… sudah tiada.”

Kalimat itu akhirnya terucap pelan, tapi terasa menghantam begitu keras. Di ujung telepon, keheningan berubah menjadi kepanikan. Suara yang tadi tenang mendadak bergetar, bertanya berulang kali seolah berharap aku salah mengucapkan.

Aku hanya bisa menggelengkan kepala, meski tak terlihat. Tangisku pecah, menyisakan sesak yang tak mampu dijelaskan. Satu per satu panggilan dilakukan, mengulang kalimat yang sama, dengan luka yang terasa semakin dalam setiap kali diucapkan. Rumah yang tadi masih terasa hangat kini mendadak sunyi. Hanya isak tangis yang menemani, sementara kenyataan itu perlahan merayap masuk bahwa Ibu benar-benar telah pergi dan tak akan pernah kembali lagi.

Tetangga sekitar kini mulai bertakziah. Satu per satu mereka datang, dengan langkah pelan dan wajah penuh iba. Suara salam terdengar bersahut-sahutan di depan rumah, diiringi bisik doa yang lirih. Ruang tamu yang biasanya terasa biasa saja kini dipenuhi orang. Beberapa ibu-ibu duduk berderet, membaca doa dengan suara pelan. Ada yang menggenggam tanganku erat, seolah ingin menyalurkan kekuatan yang bahkan mereka sendiri mungkin tak punya.

’’Yang sabar ya, Nak…” bisik salah satu dari mereka.

Aku hanya mengangguk, meski rasanya kata sabar itu terlalu jauh untuk kugapai saat ini.

Di sudut ruangan, tubuh Ibu telah dibaringkan dengan tenang. Wajahnya tampak damai, seolah hanya tertidur setelah lelah yang panjang. Beberapa tetangga membantu menyiapkan segala keperluan peristirahatan terakhir, kain kafan, air, dan perlengkapan lain dengan sigap, tanpa banyak bicara. Suara tangis sesekali pecah, lalu mereda, lalu pecah lagi. Seperti ombak yang tak pernah benar-benar tenang.

Aku berdiri di ambang pintu, memandangi semua itu dengan perasaan kosong yang sulit dijelaskan. Di tengah keramaian, justru terasa ada ruang besar yang hampa, ruang yang dulu selalu diisi oleh Ibu. Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar menyadari bahwa
rumah kecil  ini tak akan pernah sama lagi. Langkah kecil itu mulai mendekatiku dengan wajah polosnya, lalu Arutala bertanya kembali.

 ’’Kakak, Ibu kenapa kok Ibu tidur terus dan kenapa rumah ini penuh dengan orang?’’ ucap adik dengan polosnya. Arutala masih terlalu kecil untuk memahami semua hal yang terjadi.

’’Ibu…” ucapku terpatah-patah. Aku yang kini tak lagi dapat menahan tangisanku. Aku biarkan air mata itu jatuh dan membasahi pipi.

’’Ibu, kenapa kak?’’  ucap Arutala menggenggam tanganku.

’’Ibu… sudah tidur nyenyak, Dek… jadi nanti kita tinggal berdua saja,” ucapku dengan berat hati. Kata yang awalnya tak ingin aku ucapkan, terpaksa aku harus memberitahu Arutala.

’’Ibu tidur ya, Kak…” ucap Arutala dengan sangat polosnya.

Aku mengangguk pelan, meski di dalam dada, sesuatu terasa runtuh perlahan. Tangannya masih menggenggam jemariku, hangat, kecil, dan rapuh seperti dirinya yang belum benar-benar mengerti arti kehilangan.

“Iya… tidur,” bisikku, nyaris tak terdengar.

Di dalam rumah, suara tangis mulai terdengar lebih jelas. Beberapa orang duduk berkelompok, berbisik pelan, sementara yang lain hilir-mudik menyiapkan sesuatu yang bahkan aku belum sanggup memahaminya sepenuhnya. Bau minyak kayu putih dan bunga bercampur menjadi satu, memenuhi ruangan yang dulu terasa hangat.

Arutala menatap ke arah dalam; matanya terus mengikuti setiap gerak orang-orang yang tak ia kenal.’’Kenapa banyak orang, Kak?”

Aku menarik napas panjang, mencoba menahan sesuatu yang terus mendesak keluar dari dalam dadaku. ’’Mereka… mau lihat Ibu,” jawabku pelan.

 Arutala terdiam sejenak, lalu kembali menatapku. ’’Aku juga mau lihat Ibu.”

Tanganku refleks menggenggam tangan Arutala lebih erat. Ada rasa takut yang tiba-tiba muncul: takut jika ia melihat, takut jika ia mulai mengerti, takut jika dunia kecilnya ikut hancur seperti duniaku saat ini. Namun, sebelum aku sempat menjawab, seorang tetangga mendekat dan menuntun kami masuk.

’’Ibu kalian di dalam, Nak…” ucap lembut salah satu teman almarhumah Ibu.

Langkahku terasa berat. Setiap inci lantai yang kupijak seperti menolak untuk dilewati. Sampai akhirnya aku melihatnya. Ibu terbaring diam. Wajahnya tenang, terlalu tenang. Tidak ada lagi senyum kecil yang biasa menyambut kami. Tidak ada suara lembut yang memanggil nama kami. Hanya diam dan sunyi yang terasa asing.

Arutala melepaskan genggamanku perlahan, lalu melangkah mendekat.

’’Ibu…” panggilnya pelan. Tidak ada jawaban.

Arutala menoleh bingung ke arahku, ’’Kok Ibu tidak bangun?”

Dadaku terasa sesak. Kata-kata yang tadi kupaksakan keluar kini terasa semakin berat untuk diulang. ’’Ibu capek, Dek…” ucapku lirih, suara yang nyaris hancur di ujungnya.

Arutala mengangguk kecil, seolah menerima jawaban itu tanpa curiga. Arutala kemudian berdiri diam di samping Ibu, menatap wajah yang tak lagi bergerak. Di luar, hujan masih turun. Suara rintiknya masuk melalui celah-celah jendela, mengisi ruang yang penuh kehilangan. Untuk pertama kalinya, aku tidak mendengar hujan sebagai sesuatu yang indah. Hujan terdengar seperti sesuatu yang pergi, perlahan, tapi pasti.

Aku menunduk, membiarkan air mata jatuh tanpa berusaha menahan lagi. Dalam hati, satu kesadaran yang paling menyakitkan akhirnya muncul tanpa bisa ditahan. Mulai hari ini, bukan hanya Ibu yang hilang. Tapi juga cara kami hidup seperti dulu. Malam datang lebih cepat dari biasanya setelah acara pemakaman Ibu sore itu.

Lampu-lampu rumah dinyalakan, tapi tak satu pun benar-benar mampu mengusir gelap yang terasa di dalam dada. Orang-orang masih berdatangan, silih berganti mengucapkan bela sungkawa, menepuk bahuku pelan, lalu pergi dengan wajah yang sama, iba dan tak tahu harus berkata apa lagi.

Aku duduk di sudut ruangan, memeluk lututku sendiri. Arutala tertidur di pangkuanku, lelah setelah seharian bertanya tentang hal-hal yang belum sepantasnya bagi gadis kecil itu untuk dipahami. Sesekali Arutala bergerak gelisah dalam tidurnya, seolah mimpi pun tak mampu membuatnya benar-benar tenang. Di hadapan kami masih terbayang Ibu yang terbaring diam.

Untuk kesekian kalinya, aku berusaha mengingat wajah Ibu. Mencoba menghafal setiap garis muka, setiap detail kecil yang mungkin suatu hari akan mulai memudar dari ingatan. Ada keinginan yang begitu kuat untuk memanggilnya sekali lagi, berharap Ibu dapat membuka mata dan semua kembali seperti semula.

Tapi kenyataan tidak bekerja seperti itu. Di luar, hujan masih turun. Tidak sederas tadi sore, tapi cukup untuk terus terdengar. Rintiknya kini lebih pelan, seperti bisikan yang tak pernah selesai. Aku menutup mata sejenak.

Dulu, Ibu pernah bilang bahwa hujan menyimpan kenangan. Tapi malam ini, yang kurasakan bukan kenangan melainkan kehilangan yang terlalu nyata untuk disangkal. Tanganku tanpa sadar meraih tangan kecil Arutala, menggenggamnya lebih erat.

’’Aku di sini, Dek…” bisikku pelan, meski ia tak mendengar.

Untuk pertama kalinya, aku benar-benar mengerti: aku tidak punya waktu untuk hancur terlalu lama. Arutala masih membutuhkanku. Rumah ini yang terasa kosong dan asing masih harus tetap menjadi tempat pulang, meski tanpa Ibu di dalamnya. Aku membuka mata, menatap bayangan Ibu yang sempat terlintas dalam pikiranku

’’Ibu…” suaraku nyaris tak keluar. ’’Aku berjanji akan menjaga Arutala, serta aku akan berusaha untuk membahagiakan dan memenuhi segala kebutuhan Arutala. Doakan aku terus, Ibu, untuk menjaga amanah ini’’ Janjiku dalam hati.

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi rasanya seperti janji yang terlalu besar untuk pundak yang belum siap. Di luar, hujan perlahan mereda. Namun di dalam diriku, sesuatu baru saja dimulai, sebuah kehidupan yang harus kujalani tanpa Ibu, dengan kenangan yang akan selalu tinggal dan luka yang entah kapan akan benar-benar sembuh.

Hujan kembali turun tidak deras, tidak pula tergesa. Ia jatuh dengan tenang, seperti sesuatu yang akhirnya mengerti kapan harus berhenti memaksa. Aku berdiri di ambang jendela, tidak lagi membawa buku catatan, tidak lagi berusaha menangkap setiap suara yang jatuh dari langit. Di belakangku, Arutala tertawa kecil, sibuk dengan dunianya sendiri yang perlahan mulai kembali utuh.

Untuk sesaat, aku hanya terdiam. Dulu, aku akan mencari Ibu di setiap rintik. Aku  percaya bahwa selama hujan masih turun, kenangan itu tidak akan pernah hilang. Aku genggam semuanya erat, terlalu erat, hingga tanpa sadar, yang aku jaga bukan hanya kenangan, tetapi juga luka.

Aku menghela napas pelan.

’’Ibu…” bisikku lirih, bukan lagi dengan tangis, melainkan dengan tenang yang baru ia pelajari.

Hujan di luar tetap jatuh, tapi kini tidak lagi terasa seperti sesuatu yang harus dimiliki. Aku akhirnya mengerti bahwa mencintai tidak selalu berarti menggenggam. Bahwa mengenang tidak harus berarti menyimpan semua rasa sakit. Jika dulu aku mengartikan hujan sebagai tempat ibuku pulang, kini aku paham bahwa Ibu tidak pernah benar-benar hilang. Ibu hidup dalam caraku bertahan, dalam langkah-langkah kecil Arutala yang terus tumbuh, dan dalam kenangan yang tidak lagi menyakitkan.

Hujan akan selalu datang. Namun kali ini, aku membiarkan diriku jatuh tanpa harus mengartikan semuanya. Karena aku telah belajar bahwa luka tidak harus disimpan selamanya, beberapa luka cukup dilepas agar hati punya ruang untuk tetap hidup. 

Komentar